Komisi IV DPR RI : Dana CSR BUMN Harusnya Untuk Bantu Usaha Kecil

Pedagang buah di pasar Bukit, Pamulang, Tangerang Selatan - Komisi IV DPR RI : Dana CSR BUMN Harusnya Untuk Bantu Usaha Kecil
Pedagang buah di pasar Bukit, Pamulang, Tangerang Selatan

Reporter: Cnc | Editor: Tama

TitikKata.com - Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Dedi Mulyadi menilai penyaluran dana Corporate Social Responsibility CSR oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang selama ini digulirkan kurang tepat dalam penyalurannya. Dia meminta seharusnya dana CSR BUMN diarahkan sesuai konteks dari bidang usaha yang dijalankan BUMN tersebut.

Hal itu Dedi sampaikan saat merespon keluhan para petani jeruk saat melakukan tinjauan lapangan dalam rangka Kunjungan Kerja (Kunker) Reses Komisi IV DPR RI di Desa Bayung Gede, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali. Para petani jeruk ini mengeluhkan tidak adanya subsidi pupuk untuk budidaya jeruk.

Setelah mendengar keluhan itu, politis Partai Golkar ini, mendorong BUMN agar dana CSR dari seluruh BUMN Pupuk diarahkan kepada proses produksi, yakni dialokasikan kepada para pelaku pertanian, perkebunan dan, hortikultura. Sehingga, para pelaku tersebut bisa membeli pupuk non subsidi.

"Misalnya produksinya pupuk, hubungannya dengan petani, (tapi) diarahkan ke UMKM nantinya ke warung, ke toko, ke pedagang, seharusnya diarahkan kepada konteks. Karena dia itu dari petani hidupnya. Harusnya CSR-nya Kembali untuk menghidupi petani-petani kecil. Herannya selama ini kalau ngomongin UMKM ngomongnya pasti perdagangan, enggak ngomong pertanian, padahal itu juga UMKM kan?" terang Dedi, di Bali, seperti dikutip TitikKata.com.

Lebih jauh, Mantan Bupati Purwakarta itu mengapresiasi masyarakat Bali yang hingga kini masih konsisten menjaga tradisi. Dia menuturkan, biasanya ketika suatu masyarakat tertinggal lalu loncat kepada tren modernisme, yang terjadi adalah tradisinya tidak terawat modernnya tidak tercapai.

"Saya mempelajari Bali. Di sini tradisi tetap dipelihara dan dijaga. Akhirnya apa? Akhirnya rakyatnya produktif dengan tradisi. Maka lahirlah tradisi berkebun jeruk, tradisi berkebun cabai rawit, pelihara sapi, pelihara ayam. Akhirnya punyalah semua. Ketika Bali punya semuanya, maka lahirlah ke pasar. Harga-harganya lebih murah daripada di Jawa Barat, DKI dan Banten. Itulah uniknya Bali." Pungkasnya


Baca Berita Menarik Lainnya Di Sini

Bagikan: