Buang Sampah Bayar, Tapi Kian Menumpuk! Warga Ciputat Curiga Ada 'Pemain' di Otista Raya
Titikkata.com - Praktik buang sampah berbayar diduga menjadi salah satu pemicu utama penumpukan sampah di sepanjang Jalan Otista Raya, Ciputat, Tangerang Selatan.
Ironisnya, pungutan yang diklaim untuk kebersihan itu justru tidak berdampak pada perbaikan kondisi lingkungan.
Sejumlah warga dan pedagang mengaku harus merogoh kocek setiap kali membuang sampah ke lokasi yang disebut-sebut dikelola oleh oknum tertentu.
Namun, setelah membayar, sampah tetap menumpuk dan tidak dikelola dengan semestinya.
Budiman (nama samaran), salah satu warga sekitar, mengatakan tarif buang sampah tidak memiliki kejelasan.
“Kalau buang sampah bayar, iya. Tapi enggak jelas tarifnya, ada yang Rp5.000, ada juga yang sampai Rp10.000,” ujar Budiman, Kamis (8/1/2026).
Tak hanya warga, para pedagang kios di sekitar lokasi juga diwajibkan membayar iuran harian.
Namun, Budiman mempertanyakan transparansi penggunaan uang tersebut.
“Pedagang tiap hari ditarik Rp8.000. Tapi setelah itu duitnya ke mana, enggak pernah jelas. Kayaknya ya ke atasannya mereka,” ucapnya.
Menurut Budiman, setelah pungutan dilakukan, tidak ada tanggung jawab nyata dari pihak yang mengaku sebagai pengelola sampah.
“Abis bayar, enggak ada tindak lanjut. Sampah tetap numpuk, tanggung jawabnya enggak ada,” katanya.
Pungutan tersebut kerap berdalih untuk kebersihan lingkungan. Namun, kondisi di lapangan justru menunjukkan sebaliknya.
“Mereka bilang buat kebersihan, tapi lihat sendiri, sampah malah makin parah. Enggak ada bukti dibersihin,” keluh Budiman.
Keluhan serupa disampaikan Doni (31), pedagang di sekitar pasar.
Ia menyebut, sampah yang menumpuk bukan hanya berasal dari pedagang, tetapi juga warga dari luar kawasan.
“Banyak yang datang dari luar, buang sampah sambil kerja atau lewat. Mereka bayar ke yang jaga, sekitar Rp3.000 atau seikhlasnya,” kata Doni.
Menurut Doni, praktik tersebut membuat lokasi pembuangan semakin penuh karena tidak ada pembatasan atau pengelolaan yang jelas.
“Orang kerja sambil bawa sampah, terus buang ke sini. Bayar sedikit, selesai,” ujarnya.
Di sisi lain, para pedagang mengaku kebingungan karena hampir semua titik pembuangan di sekitar pasar sudah penuh.
“Kita sebagai pedagang juga bingung mau buang ke mana. Semua sudah penuh,” kata Doni.
Ia menegaskan, penumpukan sampah tidak bisa sepenuhnya disalahkan kepada pedagang pasar.
“Ini bukan cuma dari kita. Banyak juga warga lain yang ikut buang. Jadi masalahnya lebih besar,” pungkasnya.
Baca Berita Menarik Lainnya di GOOGLE NEWS