Derita Yenisa, Janda KPPS Ditinggali Dua Anak Balita dan Calon Bayi 8 Bulan
TitikKata.com-Yenisa Romadon (26), istri mendiang Pedrik (37), petugas KPPS Kelurahan Pondok Jagung Timur, Kecamatan Serpong Utara, Tangerang Selatan, masih tidak menyangka suami tercintanya pergi meninggalkan dirinya yang tengah hamil tua dan dua putera-puterinya Rifi (4) dan Cia (2) untuk selama-lamanya.
Sebelumnya Pedrik, yang ikut bagian dalam perhelatan Pilpres dan Pileg 14 Februari 2024 kemarin, mengeluhkan kelelahan setelah bekerja 24 jam lebih mulai persiapan Tempat Pemungutan Suara (TPS20), hingga bersih-bersih area TPS selepas perhitungan hasil suara di hari Kamis 15 Februari 2024 pagi.
“Tanggal 15 dia pulang pagi jam 05.00 WIB dia bilang ayah capek banget sehabis bacakan dan menulis perhitungan suara,” ungkap Yenisa, mengenang perbincangan terakhirnya bersama sang suami.
Yenisa, yang melihat almarhum sudah kelelahan pun meminta sang suami untuk istirahat penuh di rumah. Namun, Yenisa yang langsung pergi bekerja meninggalkan rumah kemudian mendapati kabar kalau Pedrik di haru Kamis itu kembali ke TPS.
“Saya tanya orang di rumah jam 06.00 dia pergi lagi. Saya tanya dia bilang beberes bangku dan meja, biar sekalian capek,” ungkap Yenisa.
Baru di hari Jumat 16 Februari, Yenisa mendapati tubuh suaminya demam dan melaporkan kejadian tersebut ke ketua RT di RT01/05 Kampung Dongkal, Kelurahan Pondok Jagung Timur, tempat almarhum tinggal dan bertugas mengawal TPS 20.
“Tanggal 16 dia meriang, saya lapor ke RT dan didatangi petugas Puskesmas. Diberikan obat dan vitamin,” jelasnya.
Bukan membaik, kondisi kesehatan Pedrik, justru menunjukkan gejala kesehatan yang lebih parah hingga dibawa keluarga ke Klinik dan dilarikan ke Rumah Sakit Insan Permata.
“Dua hari dirawat di sana, hari selasam malam sekitar pukul 22.00 WIB, Anak saya dinyatakan meninggal dunia,” ungkap Rokim (53), ayah Pedrik.
Rokim menegaskan anaknya Pedrik, kerap terlibat setiap musim Pemilu. Baik pemilihan Presiden, legislatif dan Kepala Daerah. Dia juga tak menyangka sang anak yang bekerja sehari-sehari sebagai petugas sekuriti di pabrik walet kelelahan hingga meninggal dunia.
“Dia orangnya semangat, sehat. Kalau kerja-kerja begitu dia sebenarnya biasa kan dia satpam. Badanya juga gemuk, entah mungkin takdir Allah,” kenang Rokim.
Rokim mengaku terakhir bertemu Pedrik usai pencoblosan 15 Februari kemarin. Saat itu Pedrik hanya bilang kalau dia tugas di TPS 20.
“Saya jaga di TPS 20 gitu aja, engga pernah ngeluh, engga pernah apa. Dia kuat orangnya,” ucap Rokim.
Kini, Yenisa, dua anak balitanya dan calon bayi yang ada dalam kandungan Yenisa, tak dapat lagi melihat dan mendengar senyum dan keluh kesah Pedrik. Dia pergi selama-lamanya setelah bekerja untuk tugas negara mengawal suara di TPS20 Pondok Jagung Timur.
“Saya engga kuat rasanya, tapi saya ikhlas,” ucap Yenisa.
Baca Berita Menarik Lainnya di GOOGLE NEWS