Diduga Lalai Tangani Pasien, Bayi di Pontang Kabupaten Serang Meninggal Dunia
TitikKata.com-Paramedis di UPT Puskesmas Pontang, Kabupaten Serang tengah disorot adanya dugaan kelalaian penanganan pasien bayi berusia 1 tahun dari pasangan suami istri Astari dan Rosita.
Kejadian bermula, pada Senin (8/4/2024) saat Astari dan Rosita membawa buah hatinya ke klinik desa karena demam tinggi.
Kemudian, pada Kamis (11/4/2024), buah hati dari pasangan Astari dan Rosita kembali mengalami demam tinggi dan dibawa ke Puskesmas Pontang.
Namun, disaat kondisi korban kritis penanganan dari paramedis di Puskesmas Pontang tak sigap. Bahkan, saat korban hendak dirujuk ke RSUD Banten, sopir ambulans sedang tidak ada dilokasi.
"Pas di Puskesmas juga gak dapet akses infus hanya dimasukin obat dari anus observasi dua kali dengan jeda 1 atau 2 jam tapi si anak masih kejang sampai dibawa ke rumah sakit masih kejang. Penanganan disini sih kurang tanggap Ambulans tidak ada sopir lambat nya disini, dokter juga tidak ada di IGD nya konsul nunggu lama, namanya lagi panik pengen cepet dibawa ke rumah sakit jadi bingung diagnosanya belum tau," ujarnya.
Sementara itu, Astari (42) ayah dari Bayi yang meninggal, mengatakan, dirinya telah legowo dan tidak menuntut apapun atas meninggalnya sang anak. Namun, ia meminta agar pihak Puskesmas melakukan evaluasi menyeluruh terhadap paramedis agar kedepan tidak terjadi kembali hal serupa.
"Menuntut proses pelayanan, kurang sigap, kurang bagus pelayanannya. Maunya kedepan ada perubahan jangan sampai ada Aish Aish yang lain. Kalau untuk kematian sudah menerima," ujarnya.
Astari mengaku, dirinya telah diundang pihak Puskesmas Pontang untuk melakukan musyawarah.
"Hasil musyawarah dari pihak Puskesmas katanya mau ada perubahan, mau ada penekanan pelayanan medis dan Ambulance, ada kabar bagus untuk desa kami desa Domas katanya satu minggu sekali ada standby dokter dari Puskesmas di desa Domas satu minggu sekali," katanya.
Ditemui di kantornya, Kepala UPT Puskesmas Pontang, Dr. Bahrum Rangkuti mengaku, ada miskomunikasi penyampaian paramedis kepada dokter, sehingga penanganannya hanya diberikan obat tidak menyarankan dirujuk.
"Jadi pasien itu dateng 11 April 2024 atas nama Aishwa posisi pasien itu memang demam menurut anamesa dan BAB cair satu kali kemudian diperiksa oleh paramedis saya dua orang kemudian hasil pemeriksaan fisik nya tidak ada tanda-tanda kegawatan di awal kedatangan baik komposmentis suhu 38,5. Kemudian paramedis konsultasikan ke dokter jaga pasien diberikan terapi paracetamol zim serta dosis. Penekanan disini ada miss penekanan dari paramedis ke dokter bahwa penekanannya bahwa demamnya tidak lebih dari tiga hari akhirnya hanya diberikan obat tidak menyarankan dirujuk, kemudian setelah 2 jam di rumah pemberian obat jam 16.30 WIB karena sudah datang dengan kejang pelayanan sudah sesuai SOP untuk penanganan kegawatdaruratan kejang, kita pasang oksigen, kita kasih anti kejang, berdasarkan afis dokter, kemudian anti perektik, dan persiapan untuk stabilisasi," ujarnya.
Terakhir, Bahrum mengatakan, atas insiden ini, pihaknya akan berkomitmen kedepannya untuk memperbaiki pelayanannya secara maksimal dan melakukan evaluasi secara menyeluruh bagi paramedis.
"Kemudian bahwa untuk mendekatkan kami dengan masyarakat khususnya desa Domas dan Wanayasa kami akan mengaktifkan Pustu di Desa Domas untuk buka pelayanan rawat jalan untuk sementara satu minggu dua kali disitu ada dokter, perawat, dan bidan nya. Jadi mudah-mudahan bisa langsung terintegrasi dengan Puskesmas," terangnya.
"Mungkin dari saya menyampaikan permohonan maaf bila ada penanganan atau kesalahan yang memang sudah dianalisa dilakukan perbaikan kedepannya. Kemudian masyarakat bisa lebih memahami dalam proses rujuk memang perlu waktu kami harus bisa merubah sesegera mungkin dalam kasus kegawat daruratan mudah-mudahan bisa berubah lebih baik," tutupnya.
Baca Berita Menarik Lainnya di GOOGLE NEWS