Loading...

Air Sungai Ciujung Hitam Pekat, DLHK Banten Ungkap Cemaran Hasil Pengujian Laboratorium

Air Sungai Ciujung Hitam Pekat, DLHK Banten Ungkap Cemaran Hasil Pengujian Laboratorium
Kabid Pengolahan Sampah, Limbah B3 dan Pengendalian Pencemaran DLHK Banten, Ruli Rianto. Foto: M.Jen
Reporter: M.Jen | Editor: Tama

TitikKata.com-Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Banten mengungkap hasil uji laboratorium air Sungai Ciujung yang menghitam. Uji laboratorium tersebut dilakukan dengan mengambil sampel air diambil di lima titik lokasi. 

Dua sampel dari dua titik lokasi di Kampung Cempa Jembatan La Tansa dan Ciujung Baru, Kabupaten Lebak. Sementara tiga sampel lainnya di wilayah Kabupaten Serang tepatnya titik lokasi Bendungan Pamarayan, Jembatan Kragilan dan Jembatan Jongjing Tirtayasa.

Kabid Pengolahan Sampah, Limbah B3 dan Pengendalian Pencemaran DLHK Banten, Ruli Rianto mengatakan, dari lima titik sampel yang diambil, ada satu lokasi titik yang tercemar, yaitu di titik lokasi Sungai Ciujung.

“Ini kan perlu kita cari tahu penyebabnya apa salah satunya mungkin dari domestik karena coliform (bakteri,red) itu lebih banyak di domestik. Kemudian kalau COD, DOD itu bisa dari domestik juga industri, tapi juga bisa dari pertanian, peternakan dan lain-lain,” ujar Ruli ditemui TitikKata di kantor DLHK Banten, KP3B, Curug, Kota Serang, Senin (18/92023),

Lebih lanjut, parameter yang digunakan untuk menguji air yaitu dengan menggunakan Biological Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD).

“Kalau kita tidak bisa spesifik mengatakan ini satu sumber saja, misalnya PT X kita ngga bisa juga melakukan justifikasi ke arah sana, tapi lebih kepada ini ada debit air yang kemudian musim kemarau juga berkurang” terang Ruli.

“Sementara aktifitas masyarakat aktifitas produksi, itu tetap berjalan sehingga kemudian mereka menghasilkan limbah baik itu limbah domestik, pertanian, industri itu semuanya  bermuara ke dalam sungai, sehingga ini menyebabkan beban daya tampung sungai itu juga menjadi menurun karena juga debitnya mengecil, tetapi volutannya atau mungkin limbahnya yang masuk tidak berkurang, sehingga kemudian menyebabkan seolah-olah pada saat kondisi sekarang sangat tinggi,” tambahnya.

Baca Berita Menarik Lainnya di GOOGLE NEWS

Berita Terkait