Loading...

Terkoneksi Smart Phone Akankah Masyarakat Baduy Bertransformasi Menjadi Masyarakat Digital

Terkoneksi Smart Phone Akankah Masyarakat Baduy Bertransformasi Menjadi Masyarakat Digital
Masyarakat Baduy di Seba Baduy 2023. Foto: M. Jen
Reporter: M.Jen | Editor: Tama

TitikKata.com-Masyarakat Baduy menghadapi ancaman serius terhadap gempuran arus modernisasi, perkembangan teknologi. Hal ini berpengaruh besar terhadap masyarakat adat yang memiliki nilai luhur adat istiadat yang telah dijaga secara turun temurun.

Pemerhati Baduy, Uday Suhada, saat ditemui TitikKata, Selasa (2/5/2023) menyampaikan kekhawatirannya atas kondisi masyarakat Baduy saat ini, karena generasi masyarakat adat terancam hilang akibat perkembangan teknologi yang telah merasuki masyarakat. 

Berdasarkan data kajian yang dilakukan selama dua tahun terhadap situasi generasi muda Baduy. Tercatat ada 12.000 nomor ponsel atas nama warga Baduy di Desa Kenekes, Kecamatan Ciboleger, Kabupaten Lebak yang terdaftar di Diskominfo Lebak, dari 9.000 nomor tersebut yang aktif sekitar 6.000 nomor.

"Kurang lebih ada 12 ribu nomor Ponsel yang terdeteksi beralamat sebagai warga Kanekes. Artinya punya orang Baduy dengan berbagai provider. Tetapi yang aktif kurang lebih 8000, tapi ada juga satu orang diantaranya punya satu, dua atau tiga nomor ponsel. Nah yang aktif betul itu hanya 25 persen saja yang dimanfaatkan untuk berniaga untuk menjual hasil kerajinan tangan dan seterusnya, selebihnya untuk bermedsos," ujar pemerhati Baduy, Uday Suhada, kepada TitikKata di Kota Serang.

Derasnya gelombang teknologi yang merasuki masyarakat adat dengan penggunaan smartphone dikhawatirkan dapat meruntuhkan tatanan nilai adat pada generasi muda Baduy. Terlebih, konten-konten yang tersaji di layar telepon pintar sudah sangat beragam dan mudah diakses. Maka pemerintah daerah dianggap perlu turun langsung mengintervensi perubahan pola generasi muda baduy yang telah mampu mengakses teknologi demi menjaga tatanan nilai luhur Baduy.

Namun pernyataan berbalik justru dilontarkan Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya pada Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Serang, yang disampaikan Prof. Dr. Ahmad Sihabudin.

Menurut Sihabudin, di era digital ini warga Baduy yang dikenal jauh dari gemerlap kota dengan memegang teguh prinsip adat istiadat leluhur yang telah dijaga secara turun temurun perlahan mulai beradaptasi dengan teknologi modern, seperti penggunaan smartphone oleh sebagian warga Baduy.

“Di era digital ini kalau Anda perhatikan di kampung Kadu Ketuk, yang jadi Ibu Kota Baduy mungkin nggak sulit orang baduy terlihat megang smartphone segala macam bahkan berjualan secara online,” ujar Sihab kepada Titikkata saat ditemui di kampus Untirta, Kota Serang. 

Penguasaan terhadap informasi dan teknologi di kalangan masyarakat Baduy saat ini, sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan seperti memperoleh informasi termasuk berjualan secara online.

Pergeseran tersebut, bagi Sihab memberikan pengaruh positif bagi warga Baduy yang kini terkoneksi dengan dunia. Sebab, teknologi dengan kemajuannya sebuah keniscayaaan bagi masyarakat dan pasti membawa perubahan. 

“Seperti tadinya mereka nggak mengenal obat obatan modern, sekarang baduy pake obat-obatan modern, atau tau cara memasarkan produknya  dengan cara modern, kalau nggak begitu tergilas juga kan,” katanya.

Meski secara primitif adat melarang warga Baduy untuk bersinggungan dengan teknologi termasuk listrik hingga internet, tapi peradaban modern sulit dihindari terlebih di Baduy Luar, sehingga jangan dimaknai sebagai ancaman. Karena menurut Prof Sihab, di tengah arus modernisasi warga Baduy tetap teguh memegang prinsip menjaga adat istiadat leluhur agar tidak hilang tergerus zaman.

Terlebih masyarakat Baduy sebenarnya memiliki pedoman hidup Gunung Ulah Dilebur, Lebak Ulah Dirusak. Artinya, gunung jangan dihancurkan dan lembah sebagai penampung air jangan dirusak.

Baca Berita Menarik Lainnya di GOOGLE NEWS

Berita Terkait