Bedah TKA Bukan Sekadar Cari Jawaban, Guru Didorong Pahami Kompetensi yang Diukur
Titikkata.com - Menghadapi pola asesmen yang terus berkembang, guru dituntut tidak hanya menguasai materi pembelajaran.
Pemahaman terhadap karakteristik soal dan kompetensi yang hendak diukur juga menjadi bagian penting dalam mempersiapkan peserta didik.
Hal tersebut menjadi salah satu fokus dalam kegiatan Bedah TKA yang digelar MKKS SMK-MGMP Kabupaten Pekalongan untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika.
Kegiatan yang berlangsung di SMK Negeri 1 Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, Selasa (29/9/2026), tersebut mengangkat tema “Bersinergi Meningkatkan Kompetensi Guru Menuju TKA”.
Para guru dari berbagai sekolah di Kabupaten Pekalongan mengikuti kegiatan tersebut yang dihadiri Ketua MKKS Mustofa, Hartanto selaku Sekretaris MKKS, Kacab Yudhistira Purwokerto Sundoro Apri Supadi, Kepala SMK Kedungwuni, Tuti dan selaku Ketua Panitia Ari Budianto.
Peserta guru-guru berasal dari tiga bidang mata pelajaran, yakni Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika.
Tiga narasumber dihadirkan untuk memberikan materi sesuai bidang masing-masing. Eko Marsudiono, S.Pd., M.M. membawakan materi Bahasa Inggris, Dedi Hidayat, M.Pd. menyampaikan materi Matematika, sedangkan Bahasa Indonesia disampaikan Shari Cintinya Lestari, S.Pd., Gr.
Bedah TKA Bukan Sekadar Mencari Jawaban
Kegiatan tersebut tidak berhenti pada pembahasan soal dan penentuan jawaban yang benar. Guru juga diajak melihat lebih jauh bagaimana sebuah soal dirancang dan kemampuan apa yang sebenarnya hendak diukur.
Menurut Dedi Hidayat, M.Pd., pembahasan soal dalam Bedah TKA perlu ditempatkan sebagai bagian dari upaya memahami kompetensi yang ingin dibangun melalui proses pembelajaran.
Ia menjelaskan, guru perlu melihat keterkaitan antara soal, kompetensi, indikator, stimulus, serta proses berpikir yang diperlukan peserta didik untuk menyelesaikan persoalan.
“Bedah TKA bukan sekadar membedah soal dan mencari jawaban. Yang lebih penting adalah memahami kompetensi yang diukur dan bagaimana pemahaman tersebut diterjemahkan ke dalam pembelajaran di kelas," ujar Dedi.
Pembahasan mencakup berbagai unsur dalam asesmen, mulai dari stimulus, kompetensi, indikator, proses berpikir yang dibutuhkan, strategi penyelesaian, hingga karakteristik soal.
Dengan pendekatan tersebut, guru diharapkan tidak hanya menjadi pengguna soal, tetapi mampu memahami tujuan di balik penyusunan sebuah asesmen.
Hal ini penting karena kemampuan siswa yang dibutuhkan dalam menghadapi asesmen tidak sebatas mengingat rumus, definisi, atau mengikuti prosedur tertentu.
Peserta didik juga perlu memiliki kemampuan memahami informasi, menerapkan konsep, menganalisis persoalan, melakukan penalaran, hingga mengambil keputusan berdasarkan data atau informasi yang tersedia.
Dedi Hidayat Dorong Guru Bawa Hasil Bedah TKA ke Kelas
Dalam materi Matematika, pemahaman terhadap karakteristik asesmen diarahkan agar dapat diterapkan dalam proses belajar mengajar.
Dedi Hidayat menekankan pentingnya guru menerjemahkan hasil pembahasan soal menjadi pengalaman belajar yang relevan bagi siswa.
Artinya, latihan yang diberikan tidak semata-mata berorientasi pada kemampuan menemukan jawaban akhir.
Siswa juga perlu dibiasakan memahami informasi dalam soal, menentukan strategi penyelesaian, menjelaskan alasan dari langkah yang dipilih, serta melakukan penalaran terhadap hasil yang diperoleh.
Pendekatan tersebut membuat persiapan menghadapi TKA tidak hanya dilakukan ketika pelaksanaan asesmen semakin dekat.
Kemampuan yang dibutuhkan dalam asesmen dapat dibangun secara bertahap melalui aktivitas pembelajaran sehari-hari.
Dengan demikian, pembelajaran Matematika tidak hanya berfokus pada penguasaan rumus dan prosedur, tetapi juga memberikan ruang bagi siswa untuk menggunakan konsep dalam menghadapi persoalan yang lebih beragam.
MGMP Jadi Ruang Kolaborasi Guru
Bedah TKA juga memperlihatkan pentingnya MGMP sebagai ruang bagi guru untuk saling belajar dan mengembangkan kompetensi secara bersama-sama.
Dalam forum tersebut, guru dapat bertukar pengalaman, membahas karakteristik soal, mendiskusikan strategi pembelajaran, serta mengidentifikasi berbagai kesulitan yang dialami peserta didik.
Dedi Hidayat turut menempatkan kolaborasi antarguru sebagai bagian penting dalam proses memahami asesmen.
Melalui diskusi, guru dapat melihat sebuah persoalan dari sudut pandang yang berbeda dan saling berbagi pendekatan pembelajaran.
Kolaborasi tersebut memungkinkan guru tidak berjalan sendiri dalam melakukan pengembangan pembelajaran.
Pengalaman dan praktik yang dimiliki masing-masing guru dapat menjadi bahan untuk melakukan refleksi dan menemukan pendekatan yang lebih sesuai dengan kebutuhan siswa.
Dari Membaca Soal hingga Memperbaiki Pembelajaran
Bedah TKA di Kabupaten Pekalongan pada akhirnya diarahkan untuk mengubah cara guru memandang asesmen.
TKA tidak hanya ditempatkan sebagai tes yang harus diselesaikan siswa. Karakteristik asesmen juga dapat menjadi bahan evaluasi bagi guru untuk melihat apakah proses pembelajaran selama ini sudah memberikan ruang yang cukup bagi siswa untuk berpikir, bernalar, menganalisis informasi, dan memecahkan masalah.
Dalam konteks tersebut, Dedi Hidayat mengarahkan guru untuk melihat soal sebagai bagian dari proses pembelajaran, bukan sekadar instrumen untuk mengukur hasil akhir siswa.
Proses tersebut dapat dipahami melalui tiga langkah utama, yaitu memahami soal, memahami kompetensi, dan memperbaiki pembelajaran.
Ketiga hal tersebut menjadi satu rangkaian.
Pemahaman terhadap soal membantu guru mengenali kompetensi yang dibutuhkan, kemudian hasil pemahaman tersebut dapat diterapkan untuk merancang pembelajaran yang lebih kontekstual.
Pembelajaran pun diharapkan tidak hanya berorientasi pada kemampuan menyelesaikan soal, tetapi memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggunakan pengetahuan dalam berbagai situasi.
Bekal Siswa Tak Berhenti pada TKA
Lebih dari sekadar meningkatkan kesiapan menghadapi tes, kegiatan Bedah TKA diharapkan turut memperkuat kemampuan peserta didik yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Kemampuan berpikir kritis, bernalar, memecahkan masalah, berkomunikasi, bekerja sama, serta mengambil keputusan menjadi bagian dari kompetensi yang perlu terus dikembangkan melalui pembelajaran.
Bagi Dedi Hidayat, pemahaman terhadap TKA seharusnya dapat menjadi pintu masuk bagi guru untuk memperbaiki proses belajar di kelas. Dengan demikian, manfaat kegiatan tidak berhenti ketika asesmen selesai dilaksanakan.
Karena itu, penguatan TKA tidak hanya menjadi tanggung jawab siswa menjelang asesmen. Guru memiliki peran penting dalam menciptakan proses belajar yang secara konsisten melatih kemampuan tersebut.
Melalui kegiatan tersebut, Bedah TKA MGMP Kabupaten Pekalongan menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas guru. Dari membedah soal, guru diajak memahami kompetensi yang diukur, kemudian membawa pemahaman tersebut ke dalam proses pembelajaran di kelas.
Baca Berita Menarik Lainnya di GOOGLE NEWS