Cerita Warga Lintasi Jembatan Piano di Desa Mekar Sari Kabupaten Serang
TitikKata.com-Warga di dua wilayah Kecamatan Carenang Kabupaten Serang dan Kecamatan Gunung Kaler, Kabupaten Tangerang, Banten, berharap perhatian pemerintah atas kondisi jembatan Piano, yang berada di Desa Mekar Sari, Kecamatan Carenang, Kabupaten Serang.
Sebab kondisi jembatan kayu dengan rangka besi berkarat yang dibangun dari hasil swadaya masyarakat sejak tahun 2002 itu dalam kondisi membahayakan bagi pejalan kaki dan pengendara sepeda motor yang melintas.
Dari pantauan TitikKata, jembatan tersebut diperkuat dengan rangka besi yang telah berkarat alasnya merupakan susunan kayu-kayu balok yang terlihat mulai lapuk.
Disebut Jembatan Piano, karena ketika jembatan itu dilintasi kendaraan bermotor, akan terdengar suara balok kayu yang sudah lepas, beradu satu sama lain dengan kerangka besi. Sehingga, menimbulkan dentingan layaknya piano.
Jembatan dengan panjang sekira 70 meter, lebar 2,6 meter dan tinggi kurang lebih 15 meter dengan tebal susunan kayu balok sekitar 10 centi meter itu merupakan jembatan penghubung untuk melintasi Sungai Cidurian yang merupakan satu-satunya akses terdekat warga yang ingin menuju wilayah tetangga. Sementara, akses lain harus ditempuh warga dengan jarak tiga kilometer lebih.
Dibangun secara swadaya oleh masyarakat sekitar pada 2001 lalu, dan mulai digunakan 2002, kondisi jembatan saat ini tampak semakin memperihatinkan dan mengerikan akibat pelapukan dan pengeroposan. Seperti diceritakan, Kamsari, salah seorang warga sekitar, Kepada Titikkata di lokasi, Jum'at (09/06/2023).
"Kurang tahu juga ya kalau pada keropos karena pada waktu dibangun juga itu menggunakan besi dan kayu bekas," tuturnya.
Kamsari mengungkapkan, banyak warga yang melintasi jembatan motornya terperoksok di sela-sela batang kayu. Bahkan, pernah memakan korban hingga jatuh ke dasar sungai cidurian terbawa arus.
"Kalau yang amblas mah sering bukan sekali dia kali, kalau motor pernah sekali amblas jatuh ke sungai luka ringan," ujarnya.
Dikatakan Kamsari, warga sudah sering mengajukan pembangunan jembatan kepada pemerintah Kabupaten Serang bahkan sudah dilakukan survei dan pengukuran. Namun, hingga saat ini belum ada realisasi.
"Kalau mengajukan pembangunan jembatan sudah tapi gak tau belum ditanggapi. Saya ajah udah tandatangan lebih kayanya 10 kali mah tapi belum ada perbaikan. Tetapi diukur lagi, diperiksa lagi, udah sering lah. Jadi kita tuh gak bisa ngitung berapa kali soalnya banyak udah beberapa kali," katanya.
Ditempat yang sama, Eko penjaga jembatan tersebut mengatakan, dirinya sudah tiga tahun menjaga dan merawat jembatan menggantikan orang tuanya. Ia berharap adanya perhatian dari pemerintah agar dilakukan perbaikan.
"Saya mah gak muluk-muluk cuman minta bantuan kayu ajah, masalahnya kayu itu ditanggung sendiri bukan dari masyarakat atau pemerintah beli sendiri dari hasil sumbangan warga yang melintas seikhlasnya gak dipatok," ujarnya.
Simak Video: Raperda Limbah Domestik Kota Serang Masih Digodok, Target Selesai Tahun ini
Baca Berita Menarik Lainnya di GOOGLE NEWS
