Loading...

Dolbon Menjadi Rutinitas Warga Serang, Ini Dampaknya Buat Kesehatan

Dolbon Menjadi Rutinitas Warga Serang, Ini Dampaknya Buat Kesehatan
Toilet Umum di Kasemen Kota Serang @ Azzam
Reporter: Azzam | Editor: Tama

TitikKata.com - Modol di kebon atau Dolbon, masih menjadi rutinitas warga di Ibu Kota Provinsi Banten, Kota Serang. Kebiasaan turun-temurun mengeluarkan kotoran manusia secara sembarang ini seperti tidak akan bisa dihilangkan dari kehidupan masyarakat di enam wilayah Kecamatan di Ibu Kota Provinsi itu.

Meski sejumlah upaya dari pemerintah kota (Pemkot) Serang, telah dilakukan untuk mengurangi kebiasaan masyarakat melakukan Dolbon, nyatanya belum cukup efektif menekan kebiasaan lama itu.

Moch BD Chandra, pengamat kesehatan dan lingkungan mengatakan bahwa perilaku dolbon ini memilki dampak yang tidak sedikit bagi manusia, terutama masalah kesehatan. 

"Karena dalam feses manusia terkandung banyak sekali bakteri dan kuman. Dan ketika dibiarkan ke alam terbuka, nah ini bisa menjadi sumber penyakit manusia," katanya kepada TitikKata.com. Rabu, (15/2/23).

"Bisa dibayangkan ketika lalat hinggap di feses manusia, lalu kembali hinggap di makanan yang sampai ke tubuh kita. Maka berpotensi penyakit diare dan korela juga akan tinggi," ujar Chandra melanjutkan.

Pria yang akrab dipanggil BD Chandra ini menjelaskan, bahwa efek domino dari perilaku Dolbon ini bisa sangat serius. Bahkan berdampak secara jangka panjang.

"Apalagi kalau misalkan air yang kita gunakan sehari-hari sudah terkontaminasi oleh feses manusia. Sehingga peilaku dolbon menjadi sumber pencemaran lingkungan manusia, karena feses manusia bisa berpengaruh dan mempengaruhi kualitas air. Juga secara estetika rasanya amat tidak elok ketika lingkungan sekitar kita terdapat banyak feses manusia," tuturnya.

Untuk memutus mata rantai dolbon tersebut, diungkapkan Chandra, kiranya perlu adanya strategi yang dilakukan secara matang, intensif dan pentahelix bagi seluruh lapisan masyarakat yang melibatkan elemen.

"Baik pemerintah tersebut (Pemkot Serang), melainkan akademisi, komunitas dan tentunya masyarakat. Bukan hanya persoalan gegrafis, atau faktor kebiasaan, tapi terbilang kompleks. Namun soal dolbon persoalan akses dan tata kelola, akses pendidikan yang akan pola hidup yang sehat dan tata kelola air yang menyangkut geografis," katanya.

Baca Berita Menarik Lainnya di GOOGLE NEWS

Berita Terkait