Loading...

Galian Drainase di Pondok Kacang Timur Layaknya Halang Rintang yang Membahayakan Warga

Galian Drainase di Pondok Kacang Timur Layaknya Halang Rintang yang Membahayakan Warga
Galian drainase di Gang Musollah, Pondok Kacang Timur, Pondok Aren dibiarkan begitu saja dan membahayakan warga sekitar. Foto: Istimewa
Reporter: Redaksi | Editor: Lani

Titikkata.com - Galian drainase di Gang Musollah, Kelurahan Pondok Kacang Timur, Pondok Aren, Tangsel dikeluhkan warga RT 003/004.

Bagaimana tidak, selama 7 hari galian saluran air tersebut dibiarkan begitu saja.

Warga yang melintas pun, bak seperti melewati halang rintang karena gundukan material sebagian menutupi badan jalan dan sangat membahayakan pengguna jalan, terutama pada malam hari maupun saat hujan.

Andri warga sekitar mengatakan, sejak pekerjaan penggalian dilakukan, tidak terlihat lagi adanya pekerja maupun alat yang beroperasi.

"Hari sabtu mereka sudah melakukan penggalian, tapi sampai hari jumat ini baik itu tanah dan galian tidak sama sekali dikerjakan,” kata Andri salah seorang warga di Kebon Manggis, Jumat (3/7).

Bahkan tanah hasil galian yang seharusnya dibuang malah dibiarkan tanpa kejelasan.

Dirinya mengaku khawatir jika hal tersebut bisa membahayakan anak-anak kecil di lingkungannya.

“Mau sampai kapan galian itu mangkrak, padahal katanya pekerjaan hanya 7 hari, ini sudah lebih. Kami kasihan warga kalau ada yang sakit atau butuh urgent untuk pakai kendaran tidak bisa lewat,” tegas Andri. 

Warga berharap instansi terkait maupun kontraktor pelaksana segera melanjutkan pekerjaan hingga selesai.

Selain percepatan pekerjaan, warga juga meminta agar area proyek diberikan pengamanan yang memadai, seperti pagar pembatas dan rambu peringatan, guna mengurangi risiko kecelakaan.

“Pengumuman ke warga tidak ada, papan informasi pekerjaan juga tidak ada, bahkan imbuan keselamatan dan gangguan juga tidak tersedia,” tuturnya. 

Meski demikian, Andri menilai bahwa pembangunan saluran drainase merupakan program yang positif untuk mengurangi genangan.

Namun, pelaksanaannya diharapkan dilakukan secara profesional dengan memperhatikan keselamatan, kenyamanan masyarakat, serta tidak membiarkan proyek berhenti tanpa kejelasan.

“Kami mendukung program ini, tapi kalau pekerjaanya semaunya kesannya hanya memperlambat pekerjaan sehingga anggaran yang harusnya untuk 5-7 hari bisa membengkak karena durasi pekerjaan yang molor,” tuturnya.

Sementara di lapangan salah seorang pekerja yang mengaku berasal dari Garut Jawa Barat tidak banyak berkomentar, karena menurutnya itu adalah keputusan mandor.

Kata dia dirinya bekerja sesuai arahan mandor.

“Soal tanah kami sampai sekarang tidak diberikan mobil untuk buang tanah dan puing, ini belum dikerjain karena kami diminta kerjakan yang di depan gang terlebih dahulu,” ujarnya.

Baca Berita Menarik Lainnya di GOOGLE NEWS

Berita Terkait