Hewan Qurban 2026 Capai 63.171 Ekor, Distan Banten Perketat Pengawasan
Titikkata.com - Hewan kurban pada 2026 di wilayah Banten jumlahnya diprediksi meningkat dari tahun sebelumnya.
Hal itu dikatakan, Kepala Bidang Kesehatan Hewan (Keswan) dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Dinas Pertanian Provinsi Banten Ari Mardiana.
“Kurban di 2025 itu sekitar 61.690 ekor, itu total ya kalau estimasi 2026 mencapai 63.171, naik 3 persen meski kita gatau ya di lapangan nanti seperti apa. Nah ketersediananya itu cuma 11.969, jadi hanya 19 persen yang tersedia, sementara yang lainnya tetap mendatangkan dari luar,” ucap Ari di KP3B, Curug, Kota Serang, Senin (11/5/2026).
Ari memastikan, seluruh hewan kurban di wilayahnya diperiksa secara ketat untuk menjamin daging yang aman, sehat, dan halal.
Meski begitu, dia mewaspadai penyakit menular seperti penyakit mulut dan kuku atau PMK pada hewan.
“Biasanya sih dalam pengawasan temuannya rata-rata sakit mata, ingusan, dan batuk. Marena lebih ke hewan stress perpindahan dari satu lingkungan ke lingkungan baru teurtama, apalagi rata-rata yang namanya lapak itu pinggir jalan mobil motor berlalulalang tinggi, tingkat polusi tinggi, makanya lebih rentan terkena penyakit,” katanya.
“Tahun kemarin kita ketemu sebanyak 2 ekor, akhirnya kita isolir disarankan untuk tidak dijual, nah kalau misalkan hal yang lain kaya antrak, brucellosis itu enggak ada. Untuk tahun ini karena kita baru melaksanakan hari ini ya kita belum ada laporannya,” sambung dia.
Hewan ternak yang terinfeksi PMK, dikatakan Ari, wajib dipisahkan dari hewan yang sehat untuk mencegah penularan yang cepat.
“Kita sarankan untuk dipisahkan tidak untuk dijual, kalau pun diperlukan pengobatan kita hanya menggunakan obat topical yang obat dari luar saja, tidak disuntik apalagi penyuntikan dengan antibiotik atau misalnya penyuntkan vitamin, kita juga tidak karena takutnya kita suntik antibiotik udah gitu si hewan terus tetap dijual, sementaara kan tidak boleh ada kandungan antibiotik. Nah Hewan terkena antibiotik itu dijual bisa mengakibatkan resistensi antibiotik bagi yang mengonsumsi dagingnya. Kadang-kadang kan dia bisa saja sapinya dipisahkan diisolasi kalau kita pulang kan yang namanya pedagang kan gitu,” pungkasnya.
Baca Berita Menarik Lainnya di GOOGLE NEWS