Loading...

Kemenag Banten Pastikan Hilal Tak Tampak, Syaban Digenapkan 30 Hari

Kemenag Banten Pastikan Hilal Tak Tampak, Syaban Digenapkan 30 Hari
Hasil rukyatul hilal yang dilakukan di Gedung Fakultas Syariah UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten pada Selasa, 17 Februari 2026, menunjukkan posisi bulan masih berada di bawah ufuk. Foto: Istimewa
Reporter: Azzam | Editor: Lani

Titikkata.com - Penentuan awal puasa Ramadhan 2026 di Provinsi Banten mengerucut pada satu kesimpulan.

Hilal tidak terlihat. Hasil rukyatul hilal yang dilakukan di Gedung Fakultas Syariah UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten pada Selasa, 17 Februari 2026, menunjukkan posisi bulan masih berada di bawah ufuk.

Kepala Kanwil Kementerian Agama Banten, Amrullah, memastikan hasil pengamatan tersebut berdasarkan data faktual dan pantauan langsung di lapangan.

“Kita sudah melewati pukul 18.24 WIB. Matahari terbenam pukul 18.17.51 WIB. Sementara bulan terbenam lebih dulu, yakni pukul 18.14.55 WIB. Artinya bulan lebih dulu terbenam sekitar tiga menit sebelum matahari,” katanya. Rabu, (18/2/2026).

Kondisi itu membuat hilal mustahil terlihat. Secara astronomis, posisi bulan tercatat minus 1 derajat.

Angka ini masih jauh dari standar kriteria Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) yang mensyaratkan ketinggian minimal 3 derajat.

“Kalau elongasinya masih minus satu derajat, tentu belum memenuhi kriteria. Jadi untuk hari ini hilal tidak terlihat,” ucapnya.

Amrullah juga membantah faktor cuaca sebagai penyebab utama tidak terlihatnya hilal.

Menurut dia, data astronomi sudah menunjukkan posisi bulan memang belum memungkinkan untuk dirukyat.

“Cuaca tidak berpengaruh signifikan. Ini memang hasil perhitungan dan pantauan langsung. Secara posisi memang belum memenuhi syarat,” ujarnya.

Hasil pemantauan dari Banten ini selanjutnya dilaporkan ke Kementerian Agama RI di Jakarta.

Data tersebut akan dikompilasi bersama hasil rukyat dari berbagai provinsi sebelum pemerintah menetapkan awal Ramadhan secara nasional.

Kendati demikian, Wakil Rektor II UIN SMH Banten, Ali Muhtarom, menjelaskan bahwa hasil rukyat di kampusnya sejalan dengan laporan Kanwil Kemenag Banten.

Ia menegaskan posisi hilal masih minus 1 derajat.

“Secara umum hilal memang tidak nampak. Meski tadi ada mendung dan juga sempat cerah, tetapi secara ketinggian masih minus satu derajat. Standar itu 3 derajat. Jadi memang jauh,” jelas Ali.

Dengan kondisi tersebut, kemungkinan besar bulan Syaban akan digenapkan menjadi 30 hari atau istikmal.

Jika merujuk pada perhitungan itu, awal puasa Ramadhan 2026 diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Ali menambahkan, secara nasional kemungkinan besar hasilnya akan sama bagi wilayah yang menggunakan metode rukyatul hilal dengan kriteria imkanur rukyat.

“Kalau akumulasi nasional tidak memenuhi 3 derajat, maka hampir dipastikan yang menggunakan metode rukyat akan memulai puasa pada Kamis,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengingatkan adanya perbedaan metode penentuan awal bulan Hijriah di Indonesia.

Sebagian kelompok menggunakan metode hisab wujudul hilal yang tidak selalu menunggu verifikasi visual.

“Perbedaan itu hal biasa. Bagi yang sudah melaksanakan tarawih malam ini berdasarkan keyakinannya, itu sah-sah saja. Ini soal metodologi dan keyakinan,” kata Ali.

Ia mengimbau masyarakat mengedepankan sikap toleransi atau tasamuh dalam menyikapi potensi perbedaan awal Ramadhan.

“Yang penting kita saling memahami. Jangan merasa paling benar. Kita sama-sama menegakkan nilai rahmatan lil alamin,” tegasnya.

Baca Berita Menarik Lainnya di GOOGLE NEWS

Berita Terkait