Loading...

Mahasiswa LSPR Angkatan 27 Angkat Anyaman Bambu Buniayu Tembus Pasar Internasional

Mahasiswa LSPR Angkatan 27 Angkat Anyaman Bambu Buniayu Tembus Pasar Internasional
Ketua Penyelenggara Story of Buniayu, Moza Febrianita (pegang mic), memaparkan tujuan dari kegiatan mahasiswa LSPR. Foto: Istimewa
Reporter: Ashriati | Editor: Lani

Titikkata.com - Mahasiswa LSPR Institute of Communication & Business angkatan 27 menunjukkan peran nyata sebagai agen perubahan melalui program bertajuk “The Story of Buniayu”.

Kegiatan ini digelar pada Sabtu, 10 Januari 2026, di Desa Buniayu, Kabupaten Tangerang, dengan fokus pada pelestarian budaya sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat pengrajin anyaman bambu.

Program ini dirancang untuk mengoptimalkan potensi Desa Buniayu sebagai sentra kerajinan bambu tradisional.

Tak sekadar menjaga warisan budaya, mahasiswa LSPR juga membekali para pengrajin dengan pelatihan digital dan pengembangan produk agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Melalui kolaborasi lintas mata kuliah, seperti PR Program and Evaluation, Creative Production and Publicity, Communication Techniques, serta Community Development Kelas Internasional, mahasiswa LSPR mendampingi pengrajin Saung Bakul Buniayu dalam peningkatan desain produk, strategi komunikasi, hingga pemanfaatan platform digital.

Pendekatan ini diharapkan mampu membuka akses pasar baru, bahkan hingga mancanegara.

Sejalan dengan agenda International Mentoring and Workshop Programme (IMWP) 2026, produk anyaman bambu Buniayu direncanakan tampil dalam pameran mini di Malaysia sebagai langkah awal penetrasi pasar internasional.

Penggerak Saung Bakul Buniayu, Kang Dhany, menyebut program ini memberikan ruang inovasi tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi.

"Pendampingan dari mahasiswa LSPR turut memperkaya wawasan pengrajin dalam mengembangkan produk yang lebih adaptif dengan kebutuhan pasar modern," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Penyelenggara Moza Febrianita menegaskan bahwa keterlibatan mahasiswa LSPR bukan hanya bersifat akademis, tetapi memberikan dampak langsung bagi penguatan UMKM lokal.

"Pemanfaatan teknologi digital dinilai menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan produk tradisional," ucapnya.

Secara keseluruhan, rangkaian kegiatan “The Story of Buniayu” dilaksanakan dalam tiga tahap, yakni pelatihan dan pendampingan pra-acara, pameran utama di Malaysia, serta tahap lanjutan berupa dokumentasi dan pemantauan perkembangan produk.

Program ini mengusung tagline “Reviving Indonesian Pride” sebagai simbol kebangkitan kebanggaan terhadap kerajinan lokal Indonesia.

Tak hanya berdampak pada aspek budaya dan ekonomi, inisiatif ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas dan SDG 8 mengenai pekerjaan layak serta pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Desa Buniayu sendiri dikenal luas sebagai penghasil berbagai produk anyaman bambu, mulai dari tas hingga perlengkapan rumah tangga berbasis teknik tradisional.

Di sisi lain, LSPR Institute of Communication & Business terus berkomitmen mencetak lulusan inovatif yang berkontribusi langsung bagi pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.

Baca Berita Menarik Lainnya di GOOGLE NEWS

Berita Terkait