Mengenal Apa Itu FABA dan Dampak Bagi Kesehatan
Titikkata.com - Dari informasi yang berhasil dihimpun, Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) menyisakan limbah padat berbentuk Fly Ash and Bottom Ash (FABA) hasil dari pembakaran bahan bakar batubara.
Kepada TitikKata di Kawasan Nuklir Pasar Jumat, Kantor Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Jakarta Selatan, Ketua Umum HIMNI (Himpunan Masyarakat Nuklir Indonesia), Prof DR Susilo Widodo sampaikan kandungan dari FABA.
“Ya itu kontroversi ada yang memandang berbahaya dan tidak berbahaya. Awalnya banyak mengganggap itu bahan berbahaya. Secara pribadi saya masih menganggap itu bahan berbahaya. Karena fly ash itu sisa pembakaran batubara. Nah di dalam batubara itu ada kandungan bahan berbahaya baik itu logam berat maupun bahan radioaktif alamiah, radioaktif primordial. Bahan radioaktif yang sudah terbentuk sejak bersama bumi itu terbentuk. Itu mempunyai umur paruh yang lama sekali ribuan tahun. Itu isinya ada uranium 238, uranium 235, dan anak luruhnya, dan juga ada thorium 232. Nah itu anak luruh nya mengandung radioaktif berbahaya juga. Punya radioaktif yang berbahaya bagi manusia. Itu dari aspek radioaktifnya,” ujarnya, Jumat (14/5/2024).
Selain dari radioaktifnya, ia juga menjelaskan dampak dari logam beratnya.
“Kalau batubara dalam bentuk belum dibakar, istilahnya ada NORM (Naturally Occurring Radioactive Material). Tapi begitu batubara dibakar, itu konsentrasi radioaktif itu jadi menaik. Katakanlah sisa pembakaran batu bara itu 70% terbakar 30% tersisa. Artinya konsentrasinya meningkat 3 kali atau 4 kali lebih besar dari sebelumnya. Jadinya bisa-bisa yang tadinya namanya NORM, menjadi TENORM (Technologically Enhanced Naturally Occurring Radioactive Material) nah itu potensi bahaya nya lebih tinggi. Selain tadi bahan-bahan logam berat kalau tidak ditreatment lebih baik itu bisa menjadi pencemar lingkungan. Oleh karena itu semestinya orang menganggap itu limbah B3. Sekarang ada Perpres bahwa itu dikeluarkan dari limbah B3. Nah mudah-mudahan ada klausul ikutan yang memang dengan syarat begini-begini. Sehingga yang tadi berbahaya menjadi tidak berbahaya. Kita tau fly ash itu abu terbang. Artinya adalah butiran-butiran kecil yang cuma berukuran 2 micron, 1/3 atau 1/4 dari rambut kita. Ya mudah berterbangan berarti. Kalau fly ash itu yang mengandung bahan radioaktif alamiah mengandung NORM, TENORM, dan mengandung logam berat. Yang terdapat di dalam butir-butir fly ash bisa masuk ke tubuh kita nah itu punya potensi berbahaya kan,” ujarnya.
Meskipun begitu, Susilo menyampaikan solusi penanggulan limbah FABA tersebut.
“Oleh karena itu ditanya penanggulangan nya, pada prinsipnya itu jangan masuk ke tubuh kita. Baik itu lewat pernafasan atau lewat makanan atau lewat yang lain. Prinsipnya jangan sampai masuk ke tubuh kita. Syukur-syukur kalau dalam sehari-hari kita tidak berdekatan dengan benda itu terlalu intens. Jadi prinsip umumnya itu diikat. Jadikan batako, jadikan apapun sehingga fly ash itu tidak berterbangan kemana-mana. Tapi kalau bisa pemanfaatannya yang tidak begitu intensif berdekatan dengan manusia. Kalau untuk batako dijadikan kamar tidur, itu berdekatan dengan manusia. Yang baik itu tetap terikat, tidak jadi debu, namun jauh dari manusia. Manfaatkanlah untuk kontruksi-kontruksi yang tidak berdekatan dengan manusia. Untuk bangunan Dam di tengah sawah, hutan, atau paling tidak untuk jalan raya,” tutupnya.
Baca Berita Menarik Lainnya di GOOGLE NEWS