Hadapi Fenomena El Nino, BMKG Stasiun Klimatologi Serang Pesankan Hal Ini
TitikKata.com-Masyarakat Banten, dihimbau untuk tidak berlebihan dalam menyikapi fenomena El Nino yang berdampak pada cuaca panas ekstrem dan kekeringan.
Koordinator Pelayanan Data dan Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Serang, Tatang Rusmana, ditemui TitikKata, Selasa (16/5/2023) kemarin menyebutkan pentingnya meminum banyak air putih agar tidak terjadi dehidrasi termasuk juga membatasi aktivitas di luar ruangan.
"Terakhir kepada masyarakat dalam menghadapi cuaca El Nino ini tentunya yang perlu dipersiapkan adalah mitigasi cuaca panas yah ekstrim, tentunya kesediaan air yang perlu disiapkan. Kemudian, aktivitas diluar bagaimana caranya supaya kita tidak terlalu dehidrasi, mungkin seperti itu saja,” jelas Tatang Rusmana, Selasa (16/5/2023).
Berdasarkan catatan Koordinator Pelayanan Data dan Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), untuk wilayah (Kota dan Kabupaten) Serang sempat tercatat suhu maksimum yang ekstrem hingga mencapai 35,5 derajat celcius pada Minggu 14 Mei 2023.
Atas fenomena itu, pihaknya telah berkoordinasi dengan dinas terkait dalam menghadapi fenomena cuaca ekstrim El Nino saat ini. Meski secara umum dampak dari El Nino di Wilayah Indonesia Barat (WIB) itu tidak terlalu signifikan.
"BMKG menyampaikan informasi terkait dengan mitigasi bencananya itu tentunya dinas-dinas terkait sudah kami sampaikan perihal dengan informasi ini, apalagi dikaitkan dengan El Nino dengan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi terhadap dampak kekeringan," katanya.
"Tetapi di Indonesia bagian Tengah dan Timur itu cukup siginifikan, seperti itu. Di Banten itu termasuk tidak terlalu signifikan, sebenarnya ada akan tetapi tidak signifikan sifatnya," ucapnya.
Sementara berdasarkan data BMKG Serang, sebagian wilayah di Provinsi Banten sudah memasuki musim kemarau. Khususnya untuk wilayah Banten bagian utara, diantaranya adalah Serang Bagian utara dan (Kota) Cilegon.
“Itu sudah memasuki musim kemarau berdasarkan 3 April kemarin. Sebagian untuk wiayah Banten bagian selatan belum memasuki musim kemarau," jelasnya.
"Sebenarnya El Nino mengikuti periode musiman juga, dan ini tetap di monitor. Jadi posisinya itu di monitor di wilayah Samudera Pasifik bukan hanya disini. Jadi, bukan di monitor di Indonesia justru, akan tetapi indeksnya yang di monitor di Samudera Pasifik. Kalau di Indonesia sendiri itu lebih kepada dampaknya, nanti bisa dilihat anomalinya di Samudera Pasifik," tuturnya.
Baca Berita Menarik Lainnya di GOOGLE NEWS