Dari 2.000 Ton Sampah Jadi 700 Ton Produk, Dengan Residu 15 Persen Program RDF Jakarta Efektif
TitikKata.com-Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tampak terus bekerja keras dalam menangulangi persoalan sampah yang klasik dan pelik.Salah satu upayanya adalah melalui program Refused Derived Fuel (RDF) Plant.
Seperti tertera di laman resmi layanan pengadaan barang dan jasa Pemprov DKI Jakarta lpse.jakarta.go.id, proyek Pembangunan Fasilitas Pengolahan Sampah Landfill Mining dan RDF Plant dilelang pada akhir tahun 2021, diatas lahan seluas 7,5 hektare dengan pemenang tender proyek PT Adhi Karya Tbk, dengan nilai kontrak Rp872.132.719.068.
Lalu, apa itu RDF, Dapat dipastikan, RDF adalah suatu tehknik pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif pengganti batubara.
Pada Kamis, (15/9/2023) tim TitiKata berkesempatan menyambangi lokasi fasilitas RDF pada Unit Pengelola Sampah Terpadu (UPST) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, di TPST Bantargebang, Bekasi, melihat bagaimana proses pengolahan dan produksinya.
Meski saat pemaparan pihak UPST DLHK DKI Jakarta enggan rekam melaui video. Namun dijelaskan oleh pihak terkait bahwa setiap harinya sebanyak 2000 ton sampah diolah, yang menghasilkan produk RDF sebanyak 700 ton perhari, dengan residu 10-15 persen.
Lebih lanjut, adapun alur dari pengolahan itu dimulai dari pemilahan sampah yang dipasok oleh truk-truk sampah dari wilayah DKI. Sebab tak semua sampah dapat dijadikan produk RDF.
Dari situ, dilanjut ke tahap Magnetic Separator, yakni menyortir besi-besi yang ada di tumpukan sampah. Berikutnya, tahap Primary Shreddar dimana sampah dari hasil dua tahap tadi dicacah seukuran 20 centi meter.
Kemudian, sampai ditahap Trommel Screen sampahnya di saring atau di ayak, dilanjutkan ke tahap Incombustibel Screen (Windshifter), yakni sampah berukuran kecil dan besar dipisah dengan cara ditiup menghunakan alat khusus.
Untuk sampah yang ringan-ringan lanjut ke tahap selanjutnya. Sedangkan yang berat-berat jadi residu, seperti kayu besar, logam, batu dan lain-lain. Sehingga sapat dipastikan, serta seperti disampaikah pihak UPST DLHK DKI Jakarta, sampah yang diolah menjadi produk RDF kebanyakan adalah plastik.
Selanjutnya dalam pemorosesan Setelah dipisahkan, sampah hasil pemilahan berkali-kali itu dikeringkan, dengan kandunga kadar air sebanyak 20 persen. Lalu, ditahap akhir, sampah kering ini di cacah lebih halus, menjadi seukuran 5 centi meter menjadi produk yang disebut RDF.
Adapun hasil RDF itu, kata Staff UPST DLHK DKI Jakarta, di jual ke dua pabrik semen yakni PT Indocement Tunggal Perkasa Tbk dan PT Solusi Bangun Indonesia (SBI) dengan harga 24 dolar perton. Harga tersebut, merujuk pada harga batu bara saat ini, mengingat belum adanya aturan yang mengatur oenjualan produk RDF yang dihasilkan.
Untuk diketahui, DKI Jakarta setuap harinya memproduksi 7700 ton sampag, yang dibuang ke TPST Bantar Gebang, Bekasi. Lebih lanjut, pada 2024 mendatang Penprov DKI Jakarta berencana membangun kembali fasilitas serupa.
Anggota Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta, Gilbert Simanjuntak, kepada TitikKata, Rabu (13/9/2023) mengatakan bahwa program RDF adalah program yang cukup efektif.
"Sudah pasti overload (sampah di bantargebang). ITF juga, tipping fee kita juga memilih yang kemarin juga tidak mampu. Maka RDF ini menjadi pilihan yang lebih baik karena biayanya jauh lebih kecil. Kan bagus kalau kita memilih RDF, mau kemudian ada perdebatan, ya kita kasih kesempatan buat RDF untuk kemudian menunjukkan dia mampu. Inikan bukan kemudian dipilih karena tidak suka ITF tetapi lebih fisibel, jadi ada dasar perhitungan yang rasionil," katanya.
Simak Video: Jadi Temuan BPK, Kejati Banten Belum Kembalikan Uang Sitaan Rp5,9 Miliar Lebih
Baca Berita Menarik Lainnya di GOOGLE NEWS
