Kota Tangerang Jadi Daerah Terendah Inflasi di Banten, BPS Puji TPID Tangerang
TitikKata.com - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten, mencatat pada Desember 2022 terjadi inflasi di semua Kota di Provinsi Banten. Inflasi tertinggi secara tahunan atau year on year (yoy) terjadi di Kota Serang dan terendah di Kota Tangerang.
Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Banten Bambang Widjonarko mengatakan inflasi terendah Kota Tangerang sebesar 4,56 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 111,82. Sementara tertinggi terjadi di Kota Serang, sebesar 7,22 persen dengan IHK sebesar 117,75. Disusul Kota Cilegon 5,86 persen dengan IHK 115,84 persen.
"Banyak langkah-langkah yang dilakukan oleh TPID (tim pengendali inflasi daerah,red) yang berdampak kepada penurunan harga seperti memastikan pasokan, kemudian kelancaran distribusi," ujar Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Banten Bambang Widjonarko ditemui di ruang kerjanya, kantor BPS Banten, KP3B, Curug, Kota Serang, Kamis (16/2/2024).
Menurut dia, Kota Tangerang merupakan salah satu wilayah yang inflasinya lebih rendah dibanding kota-kota lain di Pulau Jawa. Meski lebih tinggi dari DKI Jakarta secara year on yearnya paling rendah di kota-kota Pulau Jawa.
"Tidak bisa dielakan juga bahwa kedekatan (Tangerang-Jakarta) mendapatkan sisi positif, karena kalau DKI Jakarta inflasinya rendah artinya pergerakan harganya tidak terlalu liar. Maka dengan wilayah yang berdampingan tentunya akan berdampak," katanya.
Dia mencontohkan ketika masyarakat di Tangerang akan membelanjakan di Jakarta yang harganya relatif stabil di periode tertentu, maka akan mengurangi permintaan di Kota Tangerang.
"Kota Tangerang relatif mengalami kesetabilan dibandingkan Kota Cilegon dan Kota Serang," ungkap dia.
Dia mengungkapkan, inflasi terjadi karena adanyak kenaikan harga yang ditunjukan oleh naiknya indeks 10 kelompok pengeluaran antara lain kelompok transportasi 22,87 persen, kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga 7,19 persen, kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga 7,16 persen.
Kemudian kelomlok makanan, minuman dan tembakau 6,80 persen, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya 4,86 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran 2,52 persen, kelompok pendidikan 0,78 persen, kelompok rekreasi, olahraga dan budaya 0,76 persen, kelompok pakaian dan alas kaki 0,61 persen. Sementara kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan mengalami deflasi 0,23 persen.
Baca Berita Menarik Lainnya di GOOGLE NEWS