Kota Tangerang Jadi Percontohan Bagi Daerah se Banten Turunkan Inflasi
TitikKata.com - Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Banten, Bambang Widjonarko mengatakan, keberhasilan Kota Tangerang dalam menurunkan angka inflasi patut jadi percontohan bagi daerah lain di Banten. Menurutnya, Kota Tangerang, mampu menjaga keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, hingga pemberian subsidi angkutan perkotaan.
"Bisa saja bahwa yang dilakukan disana menjadi untuk pembelajaran bagi wilayah lain," ujar Bambang saat ditemui di kantor BPS Banten, KP3B, Curug, Kota Serang, Kamis (16/2/2023).
Dia menuturkan, kunci Kota Tangerang dalam menekan angka inflasi dilakukan berbagai program mulai keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, hingga pemberian subsidi angkutan perkotaan.
"Disisi transportasi mereka ada transportasi masal, kemudian juga ada program mobil pasar keliling si Jampang yang mereka sebut Belanja Gampang," katanya.
Dia mengungkapkan, tim pengendali inflasi daerah Kota Tangerang, menyediakan fasilitas untuk masyarakat bisa membelanjakan komoditas-komoditas yang dibutuhkan sehari-hari bahan pangan startegis
"Jadi, supaya masyarakat tidak menjerit dengan situasi harga, paling tidak mengurangi efek dari kenaikan permintaan, karena ada fasilitas yang disediakan dengan harga cukup bagus tidak terlalu tinggi tidak terlalu mahal, dan bisa jadi pilihan bagi masyarakat," pungkasnya.
Diketahui, BPS Provinsi Banten mencatat pada Desember 2022 terjadi inflasi di semua Kota di Provinsi Banten. Inflasi tertinggi secara tahunan atau year on year (yoy) terjadi di Kota Serang dan terendah di Kota Tangerang.
Inflasi terendah Kota Tangerang sebesar 4,56 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 111,82, sementara tertinggi terjadi di Kota Serang sebesar 7,22 persen dengan IHK sebesar 117,75. Disusul Kota Cilegon 5,86 persen dengan IHK 115,84 persen.
Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukan oleh naiknya indeks 10 kelompok pengeluaran antara lain kelompok transportasi 22,87 persen, kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga 7,19 persen, kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga 7,16 persen.
Kemudian kelomlok makanan, minuman dan tembakau 6,80 persen, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya 4,86 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran 2,52 persen, kelompok pendidikan 0,78 persen, kelompok rekreasi, olahraga dan budaya 0,76 persen, kelompok pakaian dan alas kaki 0,61 persen. Sementara kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan mengalami deflasi 0,23 persen.
Baca Berita Menarik Lainnya di GOOGLE NEWS