Loading...

Multatuli dan Cerita Penindasan Rakyat Oleh Penguasa di Lebak

Multatuli dan Cerita Penindasan Rakyat Oleh Penguasa di Lebak
Ilustrasi: Fahmi
Reporter: Fariz | Editor: iqbal

TitikKata - Kritik dan kecaman terhadap kekejaman praktik kolonialisme bangsa Belanda di nusantara, dalam lintasan sejarah pernah muncul dari berbagai bentuk, serta dari berbagai pihak termasuk dari kalangan bangsa Belanda sendiri

Salah satu kritik yang terkenal disuarakan Eduard Douwes Dekker atau yang dikenal dengan nama pena Multatuli yang memiliki arti "banyak yang aku sudah derita" dalam bahasa Latin pada karya tulis roman berjudul Max Havelaar atau Lelang Kopi Perusahaan Dagang Belanda yang terbit pada tahun 1860.

Karya sastra penuh satire ini berisi kritik atas perlakuan buruk pemerintah kolonial Hindia Belanda dan penguasa lokal terhadap orang-orang pribumi.

Douwes Dekker menulis Max Havelaar dalam kamar kecil di kota Brussel, Belgia, selama hampir dua bulan, dari September hingga November 1859. Dia menggunakan catatan dan pengalamannya saat menjabat Asisten Residen atau setara Bupati yang ditunjuk dari dan untuk pihak pemerintahan kolonial selama tiga bulan pada tahun 1856, sebagai bahan penulisan.

Max Havelaar memuat kisah perilaku menyeleweng Bupati Lebak, sikap abai atasan Dekker terhadap penyelewengan dan kondisi penduduk di Lebak kala itu.

Max Havelaar terbit perdana di Belanda pada 14 Mei 1860. Melalui karyanya ini, Multatuli adalah orang pertama yang membawa kabar ke Belanda bahkan Eropa secara luas, bahwa terdapat penindasan kepada pribumi di tanah jajahan Hindia Belanda.

Atas jasa besarnya menyadarkan bangsa Eropa dan meniupkan semangat antikolonialisme pada tahun-tahun sesudahnya terhadap banyak tokoh kemerdekaan. Atas jasanya, sebuah museum di sekitar alun-alun Rangkasbitung, wilayah tempat ia berdinas sebagai pegawai negeri Hindia Belada di Banten dinamakan dari nama penanya.

Kepala Museum Multatuli Lebak, Ubaidillah mengatakan, Multatuli tiba di nusantara pada tahun 1838, ia hijra ke Batavia atau Jakarta kini dengan menumpang salah satu kapal ayahnya dari Negeri Belanda.

Setibanya di Batavia, Multatuli berhasil diterima di departemen akuntansi di kantor Pengawasan Keuangan Batavia pada tahun 1839.

Di tahun 1842, kata Ubaidillah, Multatuli diangkat menjadi pengawas keuangan di Kecamatan Natal yang terletak di Sumatera Utara.

Kala itu, ia mendapatkan teguran serius hingga diberhentikan lantaran melaporkan penyimpangan dan kerugian besar dalam kas pemerintahan.

Antara 1852 hingga 1855, Multatuli sempat mengambil cuti dan kembali ke Belanda karena alasan kesehatan.

Namun, keuangannya semakin memburuk karena sering mengalami kekalahan di meja judi.

"Tugas terakhirnya Multatuli diangkat menjadi asisten residen Lebak, Banten pada tahun 1856. Kalau sekarang itu setara Bupati. Cuma sekitar 84 hari menjabat (21 Januari 1856 - 4 April 1856)," kata Ubaidillah.

Menurut Ubaidillah, Multatuli tidak lama menjabat sebagai asisten residen Lebak. Lagi-lagi karena dia menyurati pimpinannya karena keberatan dengan praktik eksploitasi penguasa atas rakyat Lebak.

Multatuli mengirim surat kepada atasannya, dan mengungkapkan bahwa ia menentang sikap pemerintah kolonial Belanda yang mendiamkan praktik eksploitasi di tanah jajahan. Sayangnya, usulan untuk menindak para pejabat pelaku pemerasan ditolak oleh atasannya. Ia justru malah diberi peringatan keras.

"Dia melihat potret ketidakadilan di Hindia-Belanda, sebagai seorang pegawai Belanda dia merasa hatinya terenyuh dengan sistem kerja Hindia Belanda itu membuat rakyat menderita. Maka ketika dia melakukan gugatan sebagai PNS yang meminta gubernur jenderal mengubah sistem justru malah dianggap sebagai bupati yang ngga bisa mengurus pemerintahan dianggap penghianat Belanda dan ngapain juga ngurus-ngurus rakyat jajahan," ungkapnya.

Garis besarnya, lanjut Ubaidillah, Multatuli terkenal di Indonesia lantaran memiliki tiga sikap di mana salah satunya soal kepekaan terhadap ketidakadilan.

"Multatuli memiliki tiga kelebihan, satu diantaranya dia peka terhadap ketidakadilan, tahu tindakan yang perlu dilakukan ketika rakyat disiksa dan ketiga pandai menulis," tukas Ubaidillah.

Simak Video: Berburu Makanan Betawi yang Melegenda di Tangsel, Ini Tiga Tempatnya


Baca Berita Menarik Lainnya di GOOGLE NEWS

Berita Terkait